
KONTEN
| Buku | 14 |
| Makalah | 17 |
| Tanya Jawab | 638 |
| Kegiatan | 292 |
| Liputan Media | 324 |
| Galeri Foto | 2120 |
Anda Pengunjung Ke:
147954
| November | ||||||
|---|---|---|---|---|---|---|
| Sun | Mon | Tue | Wed | Thu | Fri | Sat |
| 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 | 1 |
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 |
Rabu, 27 Agustus 2008 - 16:48 wib
Eko Wahyu Sentosa - Okezone
JAKARTA - Hakim Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshiddiqie mengingatkan para aktivis politik agar tidak lupa diri ketika sudah menggapai kekuasaan atau berkecimpung di parlemen.
Hal itu disampaikan Jimly dalam acara "Lepas Aktivis 98 Menuju Pemilu 2009" di gedung MK Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta, Rabu (27/8/2008).
"Jangan ketika sudah menjadi caleg (calon legislatif), menerima atau berebut uang yang bukan menjadi hak kita. Walaupun kekuasaan sudah di tangan," imbau Jimly.
Menurutnya para aktivis politik justru harus dapat menunjukkan kualitasnya.
Sehubungan dengan itu pula, dia meminta caleg yang berangkat dari aktivis politik, agar tidak kalah bersaing dengan para caleg yang berlatar belakang pangusaha dan seniman (artis).
Menanggapi hal itu, salah satu aktivis politik Rama Pratama mengatakan, kehandalan anggota legislatif saat ini dapat ditunjukkan dengan mampu membuat masyarakat menerima kenyataan politik yang ada.
"Sebab real politics ada di masyarakat. Tantangannya adalah aksesibilitasnya," ungkap Rama.
Turut hadir dalam acara ini sejumlah aktivis '98, antara lain Sahrin Hamid, Sarbini Kusumaatmaja, Tinton, Gusriadi Subiyakto, dan Rama Pratama.
(rgi)
Arsip Berita

