Headercontent

Cari Buku

KONTEN
Buku5
Makalah172
Tanya Jawab5251
Kegiatan859
Liputan Media452
Galeri Foto2353


Anda Pengunjung Ke:
6942044
September
SunMonTueWedThuFriSat
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293012345
KEGIATAN

Jimly, dari MK Mengincar RI-2?

File_6-thumb

INILAH.COM, Jakarta – Mundurnya Jimly Asshiddiqie sebagai hakim Mahkamah Konstitusi, memunculkan beragam spekulasi. Ada dugaan, dia ingin terjun di politik praktis. Betulkah dia mengincar posisi RI-2 pada Pemilu tahun depan?

 

Dalam pesan singkat yang diterima INILAH.COM, Selasa (7/10) Jimly tidak menjawab secara tegas alasan kemundurannya dari hakim MK. “Nanti jam 15.00 WIB jumpa pers di MK sesudah ketemu dengan presiden,” katanya.

 

Menurut Ray Rangkuti, Direktur Eksekutif Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima), kemunduran Jimly sangat terkait dengan niatnya untuk maju dalam Pilpres 2009 mendatang. Pernyataan Ray layak dengar. Dia orang dekat Jimly dan acap menggelar pengajian konstitusi ingguan di kediaman tokoh asal Palembang itu.

 

“Saya kira ini terkait erat dengan keinginan beliau menjadi capres/cawapres dalam Pemilu 2009,” katanya.

 

Menurut dia, sulit mencari alasan jika kemunduran Jimly dari hakim konstitusi tidak ada tujuan yang lebih besar. “Kalau bukan untuk tujuan besar, sulit bagi Jimly mundur dari MK,” jelasnya. Meski demikian, Ray menyayangkan figur Jimly tidak memiliki kedekatan khusus dengan kalangan partai politik.

 

Pandangan yang sama juga dikemukakan Direktur Ekskekutif Indo Barometer, M Qodari. Menurutnya, jika memang mundurnya Jimly terkait dengan Pilpres 2009, tampaknya berat bagi Jimly untuk melenggang dalam kontestasi politik lima tahunan tersebut.

 

“Memang Jimly populer, tapi untuk dukungan publik masih minim,” terangnya. Dia menegaskan hingga saat ini nama Jimly bahkan belum muncul dalam survei lembaga independen.

 

Ia juga menduga, kemungkinan besar partai politik baru yang belum memiliki tokoh atau ikon akan merapat ke Jimly sebagai vote-getter. “Saya menduga, partai politik baru akan merapat ke Jimly untuk ikon partai,” ujarnya.

 

Meski demikian, Jimly sejatinya juga punya modal. Jejak rekamnya diterima semua partai politik dalam pemilihan hakim konstitusi di DPR menjadi isyarat bahwa Jimly memiliki pergaulan yang bagus dengan kalangan partai politik.

 

Bima Arya Sugiarto, pengamat politik dari The LEAD Institute, mengakui Jimly punya modal. Setidaknya, dia memiliki kepemimpinan yang kuat dan manajerial yang baik. “Persoalannya, jaringan dan mesin parpol tidak dimiliki oleh Jimly,” katanya. Menurut dia, partai politik akan mendorong figur yang memiliki popularitas.

 

Namun, Direktur The Indonesia Institute, Jeffrey Geovanie, kepada INILAH.COM, tak melihat sama sekali kaitan kemunduran Jimly dengan Pemilu 2009. “Saya rasa tidak berkaitan dengan Pemilu 2009. Dugaan saya itu dilakukan agar MK tidak identik hanya dengan Jimly,” tegasnya. Menurut Jeffrey, dengan kemunduran Jimly, maka terdapat ruang untuk Mahfud MD sebagai ketua yang baru untuk lebih maksimal kiprahnya.

 

Bila ditilik dari jejak rekam Jimly di kancah politik nasional, dirinya tidaklah terlalu berjauhan dari politik. Di kala BJ Habibie menjabat sebagai Wakil Presiden era Soeharto, Jimly menjadi staf khusus wapres. Selain itu, di organisasi Ikatan Cendekiwan Muslim Indonesia (ICMI), Jimly juga salah satu figur kunci. ICMI adalah kendaraan Habibie di era 1990-an.

 

Artinya, sangat terbuka bagi Jimly dari komunitas dan pergaulannya untuk melenggang dalam Pilpres 2009 mendatang. Meski ada catatan penting bagi Jimly, bahwa mesin partai politik dan tingkat elektabiltasnya masih minim jika dirinya berkeinginan maju dalam Pilpres 2009.

 

Jimly yang mundur mendadak sebenarnya lebih menimbulkan rumor, teka-teki, dan spekulasi politik. Namun, popularitasnya yang relatif rendah atau belum muncul, membuat kemundurannya dari MK tidak memberikan ‘dentuman politik’.

 

“Ya, kabar mundurnya sekadar jadi buah bibir sekelompok dan media pasca Lebaran. Kebetulan belum ada berita politik lain yang besar dan menonjol. Jadi, jangan ditanggapi serius amat. Isunya biasa-biasa saja,” kata Tisnaya Kartakusuma, alumnus Universitas Sorbonne, Paris. [I4]

 

Sumber: http://www.inilah.com/berita/politik/2008/10/07/53372/jimly-dari-mk-mengincar-ri-2/







Kembali
CopyRight © jimly.com 2007 - 2008