Headercontent

Cari Buku

KONTEN
Buku5
Makalah172
Tanya Jawab5251
Kegiatan859
Liputan Media452
Galeri Foto2353


Anda Pengunjung Ke:
6941969
September
SunMonTueWedThuFriSat
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293012345
KEGIATAN

Wawancara Khusus: Soal Capres, Tunggu November

File_14-thumb

INILAH.COM, Jakarta – Mundurnya Jimly Ashiddiqie dari hakim Mahkamah Konstitusi (MK) melahirkan beragam spekulasi. Langkah itu mengejutkan, apalagi nama Jimly kemudian masuk dalam bursa capres/cawapres 2009 mendatang. Ini semua tak lepas dari perannya yang sukses meletakkan fondasi MK.

 

Tak kalah santer pula perihal rumor seputar ‘konflik’ Jimly dengan penggantinya, Mahfudh MD, pasca kekalahan dalam pemilihan Ketua MK Agustus lalu yang membuat Jimly meradang. Meski telah menjelaskan ke publik perihal sebab kemundurannya karena mimpi di malam lailatul qadar pada Ramadhan lalu, namun hal tersebut dianggap tidak rasional dan cukup subyektif.

 

Untuk mengetahui latar belakang kemudurannya serta kemungkinan ‘Man of The Year 2008’ versi Majalah Globe ini maju sebagai capres/cawapres, INILAH.COM secara khusus mewawancarai pria asal Palembang ini di kantornya di gedung MK, Jakarta, Rabu (8/10). Berikut ini wawancara lengkapnya:

 

Bagaimana sebenarnya dengan munculnya rumor yang santer bahwa kemunduran Anda dari hakim konstitusi MK terkait erat dengan niat Anda untuk iukt di Pilpres 2009 mendatang?

 

Kalau analisa politik ‘kan macam-macam. Itu harus dikonfirmasike analis politik dan partai politik. Kalau saya tidak punya partai, jadi tidak bisa bicara. Apalagi sampai hari ini saya belum berhenti sebagai hakim. Nanti kalau sudah berhenti dari hakim, ya mungkin saja terlibat dalam pembicaraan politik. Tapi saya sudah tegaskan, bahwa saya sudah dianggap sebagai ‘negarawan’, tidak berpihak dan tidak partisan. Kondisi ini saya rasa nyaman, karena lebih berguna dan bisa membantu siapa saja untuk kepentingan negara dan bangsa. Jadi rasanya sayang kalau saya berubah menjadi politikus. Tapi kalau msialnya ada partai yang melamar atau mendekati, itu soal nanti.

 

Artinya, kemungkinan pencapresan dalam Pilpres 2009 tidak Anda tutup?

 

Ya mungkin saja, tapi itu tidak dibicarakan saat ini.

 

Ada argumen bahwa Anda tidak mungkin mundur dari hakim MK jika tidak ada alasan besar yang menyebabkannya. Jika sebelumnya Anda menyebut kemunduran karena mimpi di malam lailatul qodar, bukankah itu personal dan subyektif. Ada alasan yang lebih rasional?

 

Lailatul qodar adalah alasan yang sangat rasional, apa itu emosional? Tapi secara lebih khusus, memang saya selalu menegaskan tugas sejarah saya di MK sudah selesai. Saya menilai Prof Mahfud dan kawan-kawan tinggal meneruskan. Saya punya keyakinan bahwa kawan-kawan yang masuk di MK adalah orang-orang yang tepat.

 

Ada juga tudingan, kemunduran Anda dari hakim MK karena adanya ‘matahari kembar’ di tubuh MK antara Anda dan Prof Mahfudh?

 

Ah enggak, tidak ada itu. Saya rasa Prof Mahfudh tahu itu. Karena setahun yang lalu saya ojok-ojok (suruh) agar dia masuk di MK sini. Waktu di Kediri, Jawa Timur, saat ceramah, saya tegaskan di publik bahwa Mahfudh adalah pengganti saya menjadi Ketua MK. Saat itu saya juga suruh Yusril (mantan Mensesneg) untuk masuk MK. Karena saya berpikiran, kalau pengganti saya adalah orang yang lebih hebat, maka secara tidak langsung saya juga hebat. Nah kebetulan, saya lebih sreg dengan Mahfudh, karena dia lebih muda dua tahun dari saya. Kalau Yusril sama umurnya dengan saya.

 

Bukan karena Anda kalah dalam ‘pertaruangan’ merebut kursi Ketua MK dengan Prof Mahfudh pada Agustus lalu?

 

Ah itu kan soal cara kita memilih. Sebenarnya saya tidak berniat lagi di MK ini. Sejak awal kan saya tidak mendaftar di DPR. Karena saya memang tidak berinat lagi di MK.

 

Lalu siapa yang mendorong Anda untuk masuk kembali di MK?

 

Setelah ditutup pendaftaran harusnya diadakan pemilihan hakim MK. Tapi DPR memperpanjang pendaftaran agar saya masuk. Walaupun saya tidak bersedia lagi, karena saya diminta oleh pimpinan lima partai politik, kan tidak sopan kalau saya tidak memenuhi permintaan itu.

 

Kenapa Anda maju lagi dalam pemilihan Ketua MK?

 

Ya itu dia, karena semua anggota minta saya terus (menjadi Ketua hakim MK), ya sudah. Tapi ketika sudah terpilih yang lain, ya tidak apa-apa juga. Saya ingin menjadikan satu tradisi bahwa jabatan itu sesuatu yang biasa saja. Namun, setelah tiga bulan, ternyata ada masalah pada diri saya, terutama masalah psikologis.

 

Bagaimana pula dengan gagasan jika Anda hijrah ke MA?

 

Ya wallahu a’lam, saya tidak tahu itu. Sebab MA itu ketuanya tidak bisa ditentukan dari luar. Itu harus dipilih dari dan oleh hakim MA.

 

Mengenai dorongan lima partai politik agar Anda terus di MK, apa itu sinyalemen bahwa Anda memiliki hubungan yang baik dengan partai politik?

 

Ya, karena semua partai politik dekat. Termasuk PDIP yang ideologinya berbeda dengan saya, juga dekat dengan saya. Saya juga dekat dengan Gus Dur dan PKB, Partai Golkar juga demikian, dengan PAN, Partai Demokrat, semuanya dekat. Insya Allah saya tidak ada masalah dengan partai politik. [P1] 

 

Sumber: http://inilah.com/berita/politik/2008/10/09/53695/soal-capres-tunggu-november/

 

 

Foto: Dokumen Pribadi







Kembali
CopyRight © jimly.com 2007 - 2008