Headercontent

Cari Buku

KONTEN
Buku14
Makalah144
Tanya Jawab4490
Kegiatan682
Liputan Media433
Galeri Foto2269


Anda Pengunjung Ke:
3665074
July
SunMonTueWedThuFriSat
293012345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829303112
KEGIATAN

Ismail Suny Meninggal

Suny-thumb

Sumber > http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/04/21/02522434/ismail.suny.meninggal

Jakarta, Kompas - Guru besar emeritus Hukum Tata Negara Universitas Indonesia, Prof Dr Ismail Suny SH MCL, meninggal dunia, Senin (20/4) pukul 01.10 di RS MMC Kuningan, Jakarta. Profesor dan doktor termuda pada zamannya itu meninggal akibat leukemia yang diderita selama satu tahun dua bulan terakhir.

Suny dimakamkan dengan upacara kemiliteran di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Penerima penghargaan Satya Karya 30 tahun dan Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama tersebut meninggalkan seorang istri, Rosna Daud, lima anak, dan enam cucu.

Adik ipar Suny, Prof Dr Muchlis Ramli, menjelaskan, Suny telah menjalani pengobatan, baik di dalam maupun luar negeri, seperti Singapura. Namun, pengobatan itu tidak berhasil. Lelaki kelahiran Labuhanhaji, Aceh, hampir 80 tahun silam tersebut dipanggil menghadap Tuhan Yang Maha Esa.

Jenazahnya disemayamkan di rumah duka di Jalan Jenggala 2, Jakarta Selatan.

Tampak hadir melayat di rumah duka antara lain adalah Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, mantan hakim agung Benjamin Mangkoedilaga, tokoh pers Jakob Oetama dan Surya Paloh, mantan Ketua Umum Partai Golkar Akbar Tandjung, Yusril Ihza Mahendra, dan lainnya.

Sosok rasional

Menurut Jimly, Suny merupakan sosok yang sangat rasional, kritis, dan keras. Terkadang karena terlalu rasional dan kritis itu, Suny tidak memerhatikan situasi dan bahkan tidak peduli pada kekuasaan.

”Pada zaman Orde Baru, dia menjadi salah satu corong pelopor yang menyuarakan pentingnya penyempurnaan UUD. Ketika itu UUD disakralkan,” ujar Jimly.

Ismail Suny pernah ditahan Pemerintah Orde Baru pada awal April 1978 karena pidato-pidato ketatanegaraan di hadapan mahasiswa yang menyuarakan tentang batas kekuasaan presiden.

Ia mengusulkan amandemen untuk mencegah orang menjadi presiden selama-lamanya. Ia ingin agar seseorang menjabat presiden cukup dua kali (periode saja). Ia dituduh melawan pemerintah yang sah dengan pasal subversi. Ia ditahan di Rumah Tahanan Nirbaya tanpa pengadilan selama satu tahun kurang dua hari.

Ismail Suny mengenyam pendidikan dasar (sekolah dasar dan sekolah menengah pertama) di Aceh, SMA di Jakarta, serta berkuliah hukum di Universitas Indonesia.

Pada usia 35 tahun dia dinobatkan sebagai profesor (termuda saat itu). Ismail Suny pernah menjabat sebagai anggota DPR GR/MPRS, Rektor Universitas Muhammadiyah, dan Duta Besar Arab Saudi.

Karya yang beliau hasilkan antara lain adalah Pergeseran Kekuasaan Eksekutif, Suatu Penyelidikan dalam Hukum Tata Negara, Mencari Keadilan (otobiografi yang ditulis selama ditahan). (ana)

 







Kembali
CopyRight © jimly.com 2007 - 2008